Jumat, 23 Februari 2024

Pengusaha Pertashop Minta Bisa Jual Pertalite

Cholis Anwar
Kamis, 13 Juli 2023 06:28:00
Ilusrasi: Petugas outlet Pertashop sedang menuangkan pertamax ke motor pelanggan (Murianews/Yuda Auliya Rahman)

Murianews, Jakarta – Para pengusaha pertashop yang hanya menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertamax, kini mulai menjerit. Mereka meminta outletnya tersebut dapat menjual pertalite agar lebih terjangkau di masyarakat.

Gunadi Broto Sudarmo, Sekretaris Pengusaha Pertashop Jateng-DIY menjelaskan, Pertashop didirikan pada tahun 2019 dengan tujuan menjadi lembaga penyalur skala kecil yang melayani kebutuhan konsumen nonsubsidi, khususnya BBM Pertamax dan Dexlite. Pertashop juga bertujuan untuk membantu masyarakat yang sebelumnya belum terjangkau oleh penyalur resmi Pertamina.

Dalam perkembangannya, Pertashop berhasil meningkatkan omzet penjualan. Puncak penjualan terjadi pada Januari 2022, ketika harga Pertamax masih Rp 9.000 per liter. Pada waktu itu, Pertashop berhasil menjual hingga 34 ribu liter BBM per bulan. Dengan margin Rp 850 per liter untuk Pertashop Gold, mereka berhasil meraih pendapatan kotor sebesar Rp 28,9 juta.

Namun, pada April 2022, PT Pertamina menaikkan harga BBM Pertamax menjadi Rp 12.500 per liter, sementara harga BBM Pertalite tetap Rp 6.750 per liter. Disparitas harga ini menyebabkan konsumen beralih ke Pertalite, dan penjualan Pertashop turun drastis menjadi hanya 16 ribu liter per bulan.

”Dengan adanya disparitas harga, omzet turun drastis hingga 90 persen. Ada 201 Pertashop yang mengalami kerugian dari total 408 Pertashop yang ada. Banyak aset disita karena tidak mampu membayar angsuran bulanan ke bank,” ungkap Gunadi mengutip Kompas.com, Kamis (13/7/2023).

Tantangan yang dihadapi oleh Pertashop semakin meningkat ketika harga BBM Pertamax terus naik hingga mencapai Rp 14.500 per liter, sementara harga Pertalite tetap Rp 10 ribu per liter. Meskipun harga Pertamax saat ini telah turun menjadi Rp 12.400 per liter, penjualan Pertamax di Pertashop tidak mengalami perbaikan.

Keadaan ini semakin memperburuk situasi bagi Pertashop yang telah mengambil Kredit Usaha Rakyat dari bank BUMN maupun BUMD untuk mendirikan usaha mereka. Sebagai contoh, untuk membuka Pertashop Gold, modal yang dikeluarkan mencapai Rp 570 juta. Selain itu, pemilik Pertashop juga harus membayar gaji karyawan, BPJS, serta menanggung kerugian dari BBM yang tidak terjual.

Gunadi meminta pemerintah untuk segera mengeluarkan Revisi Peraturan Presiden (Perpres) 191 Tahun 2014 yang mengatur penjualan BBM Pertalite. Dalam revisi tersebut, pembelian Pertalite akan dibatasi khusus bagi mereka yang berhak.

Namun, hingga saat ini, skema yang akan ditetapkan pemerintah masih belum diketahui. Gunadi juga menyerukan agar pemerintah dapat menindak tegas pengecer ilegal BBM Pertalite, seperti Pertamini yang semakin menjamur.

Komentar