Beralih ke panggung dalam negeri, Ibrahim memandang sentimen terhadap rupiah ikut tergerus setelah angka inflasi nasional pada Mei 2026 melonjak ke level 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).
Rapor tersebut terpantau lebih tinggi bila dikomparasikan dengan inflasi April 2026 yang hanya bertengger di angka 0,13 persen.
Akselerasi laju inflasi domestik tersebut utamanya dipicu oleh kelompok harga pangan bergejolak, fluktuasi harga energi, tarif yang diatur pemerintah, serta efek domino dari pelemahan nilai tukar rupiah itu sendiri.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus April 2026 disokong penuh oleh performa sektor perdagangan nonmigas yang meraup surplus 3,53 miliar dolar AS.
”Namun kalau di lihat secara statistik, surplus perdagangan April menyempit tajam, menggarisbawahi tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat pasokan global yang tersendat akibat Selat Hormuz di blokade oleh pasukan garda revolusi Iran yang sampai saat ini belum ada kejelasan kapan akan dibuka kembali,” beber Ibrahim.
Murianews, Jakarta – Nilai tukar rupiah dilaporkan kembali loyo di hadapan mata uang global pada penutupan pasar perdagangan Rabu (3/6/2026) sore. Rupiah mencatatkan koreksi cukup dalam hingga bergerak mendekati level Rp 18.000 per dolar AS.
Dalam transaksi yang bergulir hari ini, rupiah ditutup melemah signifikan sebesar 127,5 poin atau anjlok sekitar 0,71 persen ke posisi Rp17.966 per dolar AS.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka sekaligus pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menilai, tren kemerosotan nilai tukar rupiah dipicu oleh akumulasi kombinasi sentimen negatif yang datang dari panggung eksternal global maupun kondisi fundamental domestik.
Dari aspek eksternal, fokus para investor dunia sejauh ini masih tertuju dan mencermati dinamika ketegangan geopolitik yang kembali membara di kawasan Timur Tengah.
Situasi memanas menyusul keputusan Israel melanjutkan penetrasi operasi militernya di wilayah Lebanon selatan. Kondisi kian diperparah oleh laporan militer mengenai peluncuran rudal balistik oleh pihak Iran yang menyasar wilayah Kuwait serta Bahrain.
”Putaran pembicaraan lain yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan pada hari Rabu, sementara ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran,” ujar Ibrahim Assuaibi dikutip dari Antara, Rabu (3/6/2026).
Di lain sisi, meletupnya harga minyak mentah dunia otomatis menyulut kekhawatiran baru terhadap lonjakan inflasi global.
Fenomena ini mendorong spekulasi kuat bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, bakal mempertahankan instrumen kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) dalam durasi waktu yang jauh lebih lama.
Dalam negeri...
Beralih ke panggung dalam negeri, Ibrahim memandang sentimen terhadap rupiah ikut tergerus setelah angka inflasi nasional pada Mei 2026 melonjak ke level 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).
Rapor tersebut terpantau lebih tinggi bila dikomparasikan dengan inflasi April 2026 yang hanya bertengger di angka 0,13 persen.
Akselerasi laju inflasi domestik tersebut utamanya dipicu oleh kelompok harga pangan bergejolak, fluktuasi harga energi, tarif yang diatur pemerintah, serta efek domino dari pelemahan nilai tukar rupiah itu sendiri.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus April 2026 disokong penuh oleh performa sektor perdagangan nonmigas yang meraup surplus 3,53 miliar dolar AS.
”Namun kalau di lihat secara statistik, surplus perdagangan April menyempit tajam, menggarisbawahi tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat pasokan global yang tersendat akibat Selat Hormuz di blokade oleh pasukan garda revolusi Iran yang sampai saat ini belum ada kejelasan kapan akan dibuka kembali,” beber Ibrahim.