Rupiah Menguat Tipis Rp 17.914 per Dolar AS, Prediksi Cenderung Anjlok
Cholis Anwar
Kamis, 23 Juli 2026 10:55:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Kamis (23/7/2026) pagi bergerak menguat tipis sebesar 3 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp 17.914 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp 17.917 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah berpotensi cenderung melemah pada perdagangan hari ini akibat eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kian memanas.
”Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik oleh tensi geopolitik di Timteng,” ucap Lukman dikutip dari Antara.
Kendati demikian, Lukman menyebut potensi pelemahan mata uang Garuda akan relatif terbatas seiring dengan mulai membaiknya sentimen domestik pasca-Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI).
”Dari RDG BI kemarin, walau mempertahankan tingkat suku bunga, namun langkah BI memberi insentif baru yang di antaranya mengurangi biaya transaksi lindung nilai valuta asing dengan bank sentral dan mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS, diharapkan bisa mendukung rupiah,” ungkapnya.
Guna menjaga stabilitas rupiah tanpa menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) pada Juli 2026, BI memilih memberikan insentif pengurangan premi untuk mendorong arus masuk investasi portofolio asing.
Insentif ini mencakup kenaikan insentif swap jual lindung nilai dari 10 persen menjadi 12,5 persen, serta perluasan insentif Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) jual lindung nilai sebesar 15 persen.
Langkah BI menahan suku bunga dianggap masuk akal mengingat tekanan internal yang mereda, meskipun ketidakpastian global masih berlanjut.
”Apabila perkembangan di Timteng tidak membaik, BI mungkin akan baru menaikkan kembali dalam pertemuan berikutnya,” kata Lukman.



