Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Salah seorang perajin produk mebel dengan bahan limbah drum adalah Muhammad Nur Mustaqim. Mulai terasa langka bahan baku utama berupa kayu, membuat pemuda kelahiran 13 September 1993 ini mendapatkan ide yang cukup unik.

Ya, dia memanfaatkan limbah drum untuk dijadikan bahan utama produk mebel seperti kursi, lemari, wastafel, dan meja.

Pemuda yang tinggal di kawasan Desa Ngabul, Kecamatan Tahunan ini mengaku telah membuat ratusan produk, dengan belasan jenis yang menggunakan bahan utama drum bekas.

“Saya basicnya bukan dunia mebel, tetapi seni lukis. Awalnya hanya mencoba buat inovasi saat mendapatkan ide dari melihat gambar kursi berbentuk bulat. Dari situ saya coba dengan bahan drum bekas yang bulat,” ujar Mustaqim kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, bisnis yang dijalaninya saat ini baru berusia sekitar lima bulan. Sejak berdiri, dia sudah memproduksi sekitar 150 kerajinan berbahan drum.  Jenis kerajinan berbahan drum meliputi, kursi, lemari, wastafel, dan meja. Totalnya ada enam belas jenis kerajinan bebahan drum.

Pada awalnya, dia hanya membuat satu produk, yaitu jenis kursi. Setelah buatannya diposting di media sosial, tak berselang lama ternyata ada yang tertarik kemudian pesan 15 kursi untuk keperluan kafe dari pemesan.Mustaqim mengaku, sebelum menjual kerajinan dari drum, dirinya berbisnis seni lukis. Itu sudah berlangsung sejak sekitar tiga tahun lalu. Pada awal-awal memang laris. Namun, belakangan semakin sepi karena banyak persaingan pasar. Dari sana kemudian dia berpikir untuk mencari ide baru. Akhirnya menemukan ide membuat drum bekas jadi kursi.”Ini banyak memberi perubahan pada pendapatan saya. Biasanya hanya sekitar Rp 1 juta – Rp 2 juta per bulan. Sekarang bisa sampai dua kali lipat. Selain itu, yang semula saya hanya punya empat karyawan, sekarang sudah ada delapan karyawan yang membantu saya,” katanya.Barang-barang karya Mustaqim  saat ini tak hanya laku di kalangan lokal. Namun, juga laku di luar negeri. Seperti Singapura dan Australia. ”Karena di Jepara banyak orang asing, akses ke luar bisa lumayan mudah. Pesanan dari luar negeri karena kebetulan beberapa kali orang asing lewat di depan rumahnya. Terus tertarik, kemudian orang asing itu memesannya untuk dikirim ke negara pemesan, ” katanya.Editor : Akrom Hazami 

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler