Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Pati – Sejumlah desa di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati sedang panen buah matoa. Hal ini membuat petani di wilayah tersebut panen cuan.

Salah satu petani tersebut yakni, Heru Sudiharto. Warga Desa Sendangrejo, Kecamatan Tayu itu kini sedang menikmati panen matoa usai menunggu berbulan-bulan.

”Bulan Oktober ini Kecamatan Tayu, khususnya Desa Sendangrejo, banyak pohon matoa yang panen,” ujar dia.

Rasa manis dan legit membuat buah yang berasal dari Papua ini menjadi favorit sejumlah kalangan. Tak ayal, buah matoa pun dihargai cukup tinggi di Kecamatan Tayu.

Di tingkat petani harga buah matoa ini tembus hingga Rp 30 ribu per kilogram. Belum lagi di tingkat pedagang yang pastinya lebih tinggi.

”Harga sekilo masih bervariasi mulai Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu,” kata Heru.

Heru mempunyai sejumlah pohon matoa. Setiap pohonnya bisa menghasilkan hingga 100 kg. Panen raya ini pun membuat dirinya panen cuan. Ia bersyukur bisa menikmati buah matoa sambil menikmati hasil panennya.

”Saya punya dua jenis pohon. Jenis merah dan kuning. Untuk macam-macam rasanya ada kayak rasa durian atau rambutan. Manis segar,” ungkap dia.

Panen melimpah...

Apalagi, hasil panen tahun ini tergolong lebih melimpah daripada tahun 2024. Ia mengaku ada peningkatan hasil hingga 80 persen daripada tahun lalu.

Heru mengaku pelanggannya tak hanya dari Kabupaten Pati saja. Ia sering kali menjual buah matoa hingga ke kota-kota besar. Seperti Semarang hingga Yogyakarta.

”Permintaan dari Demak, Semarang, Solo, Yogyakarta, biasanya online. Ada juga yang kirim datang dan lihat-lihat juga langsung petik sekaligus wisata petik matoa,” tutur Heru.

Ia mengaku matoa memang bukan buah asli Tayu. Namun, jenis tanah di Kecamatan Tayu dinilai cocok hingga buah ini bisa bertumbuh dan berbuah lebat.

”Bisa dikembangkan di sini mungkin cocok struktur tangannya. Mungkin daerah lain ada yang juga bagus,” pungkasnya.

Editor: Cholis Anwar

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler