Makin Tegang, Rupiah Loyo Nyaris Rp 18.000 per Dolar AS Sore Ini
Cholis Anwar
Rabu, 3 Juni 2026 17:28:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jakarta – Nilai tukar rupiah dilaporkan kembali loyo di hadapan mata uang global pada penutupan pasar perdagangan Rabu (3/6/2026) sore. Rupiah mencatatkan koreksi cukup dalam hingga bergerak mendekati level Rp 18.000 per dolar AS.
Dalam transaksi yang bergulir hari ini, rupiah ditutup melemah signifikan sebesar 127,5 poin atau anjlok sekitar 0,71 persen ke posisi Rp17.966 per dolar AS.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka sekaligus pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menilai, tren kemerosotan nilai tukar rupiah dipicu oleh akumulasi kombinasi sentimen negatif yang datang dari panggung eksternal global maupun kondisi fundamental domestik.
Dari aspek eksternal, fokus para investor dunia sejauh ini masih tertuju dan mencermati dinamika ketegangan geopolitik yang kembali membara di kawasan Timur Tengah.
Situasi memanas menyusul keputusan Israel melanjutkan penetrasi operasi militernya di wilayah Lebanon selatan. Kondisi kian diperparah oleh laporan militer mengenai peluncuran rudal balistik oleh pihak Iran yang menyasar wilayah Kuwait serta Bahrain.
”Putaran pembicaraan lain yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan pada hari Rabu, sementara ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran,” ujar Ibrahim Assuaibi dikutip dari Antara, Rabu (3/6/2026).
Di lain sisi, meletupnya harga minyak mentah dunia otomatis menyulut kekhawatiran baru terhadap lonjakan inflasi global.
Fenomena ini mendorong spekulasi kuat bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, bakal mempertahankan instrumen kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) dalam durasi waktu yang jauh lebih lama.
Dalam negeri...
- 1
- 2



