Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, Deposit Facility di level 4,75 persen, dan Lending Facility di level 6,50 persen.
Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa meningkatkan biaya pendanaan domestik di tengah ketidakpastian global.
Murianews, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada Kamis (23/7/2026) pagi. Pergerakan positif ini mengekor penguatan bursa saham di kawasan Asia.
IHSG dibuka menguat 12,14 poin atau 0,19 persen ke posisi 6.346,62. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,81 poin atau 0,13 persen ke posisi 633,36.
”Selama IHSG mampu bertahan di atas area support 6.284-6.260, peluang melanjutkan penguatan masih terbuka untuk kembali menguji resistance 6.377. Jika mampu breakout dan bertahan di atas level itu, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.398-6.459,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata dikutip dari Antara.
Dari mancanegara, sentimen pasar cenderung berhati-hati menjelang laporan keuangan perusahaan teknologi berkapitalisasi besar (big caps) yang dinilai akan menjadi penentu arah reli saham bertema kecerdasan buatan (AI).
Investor mencermati panduan belanja modal (capex) Alphabet yang diproyeksikan meningkat seiring tingginya permintaan AI dan kenaikan harga chip memori.
Di sisi lain, kekhawatiran mengenai besarnya investasi AI dan ketidakpastian waktu pengembalian modal masih membayangi pasar. Hal ini membuat saham-saham semikonduktor mengalami koreksi tajam lebih dari 20 persen dari puncaknya.
Sentimen global juga dipengaruhi oleh kembali meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menyusul ancaman balik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait jalur pelayaran vital Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Namun, upaya diplomasi masih berlangsung dengan adanya usulan gencatan senjata selama 10 hari melalui mediator internasional.
BI Rate...
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, Deposit Facility di level 4,75 persen, dan Lending Facility di level 6,50 persen.
Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa meningkatkan biaya pendanaan domestik di tengah ketidakpastian global.